Harga Emas Turun, Antara Pesimisme dan Optimisme

Setelah harga emas turun secara beruntun sejak April lalu, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa semakin banyak yang pesimis dengan perkembangan harga emas di masa depan. Tetapi pada saat yang bersamaan masih banyak juga yang tetap optimis atau setidaknya mengambil kesempatan dari harga emas yang terdiscount secara besar-besaran ini.

Siapa yang pesimis dan siapa yang optimis ?

  • Yang pesimis adalah para investor dan spekulan yang memandang emas hanya sebagai salah satu instrument investasi saja. Mereka ini salah satunya terpersonifikasi sebagai George Soros untuk individual dan Goldman Sachs untuk institusi. Perilaku keduanya terhadap emas mendorong harga emas turun dalam beberapa bulan terakhir ini. Yang pesimis jumlahnya sedikit, tetapi sayangnya merekalah yang perkasa di perdagangan emas dunia – terutama yang dalam bentuk paper seperti ETF. Jadi meskipun jumlah mereka sedikit tetapi mampu mengguncang dunia perdagangan emas.
  • Yang optimis dan bahkan mengambil kesempatan dalam kejatuhan harga emas adalah masyarakat yang secara tradisi memang menggunakan emas sebagai bagian dari lifestyle-nya. Masyarakat China dan India yang penduduknya mewakili sekitar 40% dari penduduk dunia, kebutuhan emas fisiknya mewakili sekitar 61% dari pasar emas fisik dunia.


Setelah harga emas jatuh di bulan April lalu, emas fisik di India rata-rata diperdagangkan lebih tinggi sekitar US$ 40/ozt diatas harga emas dunia per troy ounce-nya. Dua pekan lalu sekitar 10,000 orang di China melakukan antrian panjang di jalan untuk memborong emas yang lagi jatuh harganya.

Di sinilah ironinya, pasar emas fisik yang begitu besar seperti di India, China dan bahkan juga Indonesia,  harga masih sangat terpengaruhi oleh pasar emas non fisik sepeti ETF. Nah, sebaliknya di Amerika dan Eropa dimana pasar emas fisiknya hanya sekitar 10% dari pasar emas fisik dunia, perdagangan bursanya yang di London dan New York seolah menjadi penentu harga emas dunia.

Kita tentu bukan George Soros atau Goldman Sachs, tapi kita juga bukan India atau China. Lantas dimana posisi kita di antara kedua kelompok tersebut di atas ? Kita membutuhkan emas bukan sebagai investasi atau hanya sekedar perlindungan terhadap nilai, lebih dari itu emas adalah timbangan yang adil dalam muamalah, dan bahkan juga membutuhkan emas untuk melaksanakan sebagian syariat Islam, seperti menentukan nilai untuk membayar zakat dll.

Negeri ini bahkan sebenarnya sangat membutuhkan tambahan cadangan emas di bank sentral yang kini tinggal sekitar 73 ton atau sekitar 24% lebih rendah dari cadangan emas kita selama seperempat abad antara tahun 1981 s/d 2006. Kalau tidak bisa menambah, setidaknya kini kesempatan baik untuk membeli kembali emas yang pernah kita jual di akhir 2006 – karena harga sangat murah! Banyak negara di dunia justru menambah cadangan emas di bank sentral-nya sepanjang tahun lalu, mengapa kita tidak ?

Bagi negeri-negeri yang penduduknya mayoritas Islam, selain meningkatkan cadangan emas bank sentralnya, seharusnya bisa mengikuti apa yang dilakukan India dan China – yaitu mendorong  lebih rakyatnya untuk menguasai emas fisik dunia. Bukan untuk ditimbun atau sekedar dijadikan perhiasan, tetapi agar kita punya timbangan yang adil untuk muamalah itu kembali – sekali lagi mumpung harga emas dunia turun. Wa Allahu A’lam.

Sumber dari artikel di Geraidinar.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives

About us

About UsCikarang Dinar adalah usaha jual beli koin emas dinar (keluaran geraidinar.com) khusus untuk distribusi wilayah Cikarang dan sekitarnya. Jaminan 100% keaslian emas + sertifikat antam, dan kami terdaftar resmi sebagai agen/sub-agen. Kami juga menyediakan Logam Mulia sertifikat antam.

Search